Oleh-oleh dari Sumba Barat Daya - Cara Masyarakat Bersyukur Menguatkan Kami

24 November 2025

Admin CMS

Bagikan sekarang

Rasa haru, bahagia, dan ungkapan syukur dari masyarakat berhasil menyentuh dan menguatkan hati saya. Saya hanyut dalam keharuan mereka. Hal ini saya alami dan rasakan ketika disambut tulus dan hangat di satu desa dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Tempat yang saya kunjungi kali ini merupakan desa yang baru saja menerima pendampingan dan bermitra dari WVI. Namun, pertemuan yang kami lakukan sudah terasa sangat akrab. Dialog yang seyogyanya hanya berlangsung 30-45 menit mengalir hingga lebih dari satu setengah jam.

“Kami sadar dan tahu, berkenalan dengan WVI adalah cara Tuhan menolong kami. Kami yakini bahwa WVI adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menjawab kerinduan kami mendapatkan layanan pengembangan masyarakat di kampung ini,” ujar Bapak Ardo (44), seorang tokoh agama yang disegani masyarakat. Ia mengawali dialog kami.

Perbincangan pun bergulir membahas beberapa isu di desa. Salah satunya adalah sulitnya akses air bersih. Masyarakat mengakui, selama ini harus membeli air dengan harga 150.000 rupiah per tangki untuk kebutuhan maksimal dua minggu. Selain itu, masyarakat juga mencoba menampung air hujan. Padahal di Sumba jarang turun hujan. Saya tidak dapat membayangkan betapa sulit memenuhi kebutuhan air, termasuk untuk ladang dan kebun masyarakat. Sementara ladang dan kebun adalah penghasilan utama. Masyarakat mengungkapkan, mereka harus berhemat air untuk mandi demi bisa menyiram kebun.