Bahagianya Ros Setelah Jadi Tutor Rumah Baca di Biak

29 Desember 2025

Admin CMS

Bagikan sekarang

cover image

Berbagi ketika dalam kelimpahan itu mudah. Sebaliknya, berbagi saat kekurangan tentu jadi ujian yang berbeda. Tidak semua orang bersedia diuji untuk berbagi saat masa sulit atau kondisi tidak menentu. Tapi bukan berarti tidak ada orang yang bersedia untuk melakukan hal besar ini. Hebatnya, justru bukan orang dewasa yang bersedia, melainkan sosok seorang anak remaja perempuan di salah satu desa di Biak, Papua. Biasa dipanggil Ros, yang saat ini menjadi siswi SMA, adalah seorang yang luar biasa karena di tengah tantangan hidupnya, ia setia mendampingi dan membagikan hidupnya untuk anak-anak lain di kampungnya.

Setiap hari, Ros harus berjalan kaki sejauh 8KM untuk bisa sampai ke sekolahnya. Sebagai seorang anak petani, sepulang sekolah Ros juga membantu berkebun. Kesehariannya bertambah sibuk karena Ros juga aktif mengikuti kegiatan kelompok anak dan mendampingi adik-adik di Rumah Baca. Meskipun sehari berjalan cepat dan melelahkan, tapi Ros tetap bisa berkata, “Saya bahagia bisa ada Rumah Baca karena di sini adik-adik sebenarnya rajin ke sekolah tapi karena tidak ada guru, mereka jadi tidak bisa belajar. Karena ada Rumah Baca, tidak bisa menulis tapi mereka bisa datang, coba menulis. Tidak bisa baca tapi di sini bisa lihat-lihat buku, coba baca-baca, eja-eja,”.

Ros sendiri menyadari bagaimana menantangnya kondisi pendidikan dasar di kampungnya. Ia menyaksikan bagaimana semangat belajar adik-adik kecil di kampungnya tidak bersambut dengan kehadiran guru di kelas. “Mereka datang pagi, mereka tunggu tapi guru tidak datang. Jadi mereka ke sekolah hanya main lalu pulang. Mau ke perpustakaan juga buku-buku sudah dimakan rayap, perpustakaan kotor, tidak bisa baca di sana,” cerita Ros.

Dengan adanya Rumah Baca, Ros merasa kembali memiliki harapan untuk masa depan anak-anak di kampungnya. “Saya bangga bisa bantu-bantu adik-adik belajar membaca, menulis, berhitung di Rumah Baca,” tuturnya.